Shodaqoh oksigen: PMII Lampung tanam 5000 bibit mangrove
![]() |
| PMII Lampung tanam 5000 bibit mangrove di desa Pematang Pasir Kecamatan Ketapang |
Kegiatan ini melibatkan lebih dari 200 kader PMII dari 8 cabang dan dipimpin langsung oleh Ketua PKC PMII Lampung, M. Yusuf Kurniawan.
Dalam sambutannya, Yusuf Kurniawan mengatakan bahwa pemilihan Desa Pematang Pasir ini dikarenakan menjadi salah satu wilayah pesisir Lampung Selatan yang mengalami abrasi dan degradasi ekosistem mangrove dalam 5 tahun terakhir.
Menurutnya, dengan hilangnya tutupan mangrove akan berdampak langsung pada meningkatnya intrusi air laut, berkurangnya hasil tangkapan nelayan dan kerentanan pemukiman warga terhadap gelombang pasang.
"Berdasarkan hal tersebut, PKC PMII Lampung menginisiasi penanaman 5000 bibit mangrove ini sebagai bentuk shodaqoh oksigen bagi masyarakat dan lingkungan," ujarnya.
Ia menjelaskan, pemilihan mangrove ini didasarkan pada fungsi ekologisnya yakni dapat menyerap karbon, menahan abrasi, dan menjadi habitat biota laut yang menopang ekonomi pesisir.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk kritik konstruktif terhadap krisis iklim yang tidak cukup dijawab dengan wacana.
"Kader PMII harus hadir di ruang-ruang persoalan rakyat. Krisis iklim adalah persoalan nyata di pesisir Lampung Selatan. Maka kami jawab dengan aksi nyata di lapangan yang mana ini merupakan amanah organisasi dan amanah agama," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai pengimplementasian daripada nilai-nilai Tri Hablum sebagai kerangka ideologis aksi kader PMII Lampung.
"Hablumminallah, merupakan hubungan dengan Allah yang dapat dilaksanakan dengan merawat ciptaan-Nya," katanya.
Menurutnya, shodaqoh oksigen yang dilakukan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama mangrove dan memberi manfaat. Selain itu, dari aspek hablumminannas, gotong royong lintas elemen menunjukkan bahwa gerakan lingkungan tidak bisa dijalankan sendiri.
"PMII hadir sebagai jembatan yang menyatukan kader, alumni, pemerintah, dan masyarakat dalam satu tujuan bersama," ujarnya.
Ia menyebut, aspek inti dari kegiatan ini adalah penerapan hablum minal alam. Menurutnya, penanaman mangrove adalah bentuk konkret tanggung jawab dari seorang khalifah fil ardh.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan ini, M. Munif Jazuli menyampaikan pentingnya kerja kolektif dalam mensukseskan kegiatan ini.
"Sejak awal kami libatkan desa dan dinas agar ada tanggung jawab bersama dalam perawatan pasca tanam," katanya.
Menurutnya, jika tanpa adanya kerja kader, alumni, pemerintah, dan warga, 5000 bibit mangrove tidak akan bertahan hingga lama.
Munif juga menyampaikan bahwa PMII Lampung juga menyepakati tiga langkah tindak lanjut bersama dengan Pemerintah Desa Pematang Pasir dan DLH Provinsi Lampung.
Hal itu di antaranya adalah monitoring bulanan terhadap pertumbuhan bibit selama 12 bulan pertama. "Kedua, pembentukan kelompok kader peduli lingkungan di tingkat desa yang nantinya diisi kader PMII Lampung Selatan dan warga setempat," tuturnya.
Selain itu, edukasi lingkungan bagi siswa-siswi SD dan SMP di Desa Pematang Pasir agar kesadaran ekologi tumbuh sejak dini.
Diketahui, jenis bibit mangrove yang ditanam merupakan jenis Rhizophora dan Avicennia dengan lokasi tanam seluas 2 hektar di pesisir Desa Pematang Pasir. Ia mengungkap, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, satu pohon mangrove dewasa mampu menyerap 10-12 kg CO2 pertahun.
"Dengan demikian, potensi penyerapan karbon dari kegiatan ini mencapai kurang lebih 55-60 ton CO2 pertahun setelah 5-7 tahun pertumbuhan," jelasnya.
Ia berharap, kegiatan ini menjadi model kolaborasi pentahelix antara mahasiswa agama alumni, pemerintah, masyarakat, dan akademisi dalam menjawab tantangan lingkungan di wilayah pesisir. RL

